Renacana Pembangunan KEK Surin Halal Barsela

Wakil Ketua Umum ISMI H. Ir. M. Suaidy,

Sekretaris Jenderal ISMI Hj. Juliana Wahid, SE, M.Pd

bersama Bupati Aceh Barat Daya Bapak Akmal Ibarhim, SH

RENCANA Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di wilayah barat selatan Aceh telah menjadi perbincangan hangat berbagai kalangan pada saat ini. Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengatakan bahwa rencana pembangunan kawasan ekonomi khusus di kawasan ini telah menjadi prioritas nasional. Pemerintah juga telah melakukan survey ke dua lokasi yang diproyeksi akan menjadi pusat kawasan ekonomi khusus yaitu Aceh Jaya dan Aceh Barat Daya.

Kawasan barat selatan Aceh, atau yang lebih populer dikenal dengan Barsela meliputi 8 kabupaten/kota yang terdiri dari Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Simeulue dan Kota Subulusalam. Kawasan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini kaya dengan berbagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui (hasil pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan) maupun sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (tambang dan mineral). Selain itu, kawasan pantai barat selatan Aceh juga kaya dengan potensi wisata alam, wisata bahari, wisata religi hingga wisata sejarah.

Beberapa komoditi unggulan bidang pertanian dan perkebunan di wilayah barat selatan Aceh antara lain sawit, karet, nilam, kakao, pala dan cengkeh. Berdasarkan data dari BPS tahun 2018, luas lahan sawit perkebunan rakyat di Barsela adalah 158.265 Ha dengan jumlah produksi sebanyak 310.374 ton per tahun. Selanjutnya, luas lahan perkebunan karet adalah sebesar 65.779 Ha dengan jumlah produksi sebanyak 30.159 ton pertahun. Luas perkebunan nilam adalah sebesar 818 Ha dengan jumlah produksi pertahun sebanyak 110 ton.

Selanjutnya, lahan perkebunan kakao sebesar 13.990 Ha dengan jumlah produksi sebanyak 3.571 ton pertahun. Lahan perkebunan pala seluas22.183 Ha dengan jumlah produksi pertahun sebanyak 5.902 ton. Luas lahan perkebunan Cengkeh 17.989 Ha denganjumlah produksi pertahun sebanyak 4.170 ton. Adapun di sektor kelautan dan perikanan, jumlah rumah tangga perikanan tangkap di wilayah Barsela adalah sebanyak 9335 rumah tangga (Provinsi Aceh dalam Angka, 2018).

Sektor Industri Unggulan KEK
Kawasan ekonomi khusus merupakan wilayah dengan batasan tertentu yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi serta diberi fasilitas dan insentif khusus sebagai pemantik daya tarik investasi. Kawasan ekonomi khusus dipersiapkan untuk memaksimalkan kegiatan industri, ekspor, impor dan kegiatan ekonomi lainnya yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pengembangan kawasan ekonomi khusus bertujuan untuk akselarasi pembangunan daerah dan pengembangan kawasan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kegiatan industri, pariwisata dan perdagangan (kek.go.id)

Kawasan ekonomi khusus yang dikembangkan terdiri dari satu atau beberapa zona yang meliputi zona industri, zona pengembangan teknologi, zona logistik, zona pengolahan ekspor, zona pariwisata, zona energi dan zona kegiatan ekonomi lainnya (kek.go.id). Untuk membangun kawasan ekonomi khusus yang efisien, pemerintah menetapkan zonasi spesifik sebagai kawasan ekonomi khusus di wilayah barsela. Kawasan ini dapat meliputi sebagian kabupaten/kota, satu wilayah kabupaten/kota atau gabungan beberapa kabupaten/kota di wilayah Barsela.

Daerah yang ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus Barsela berperan sebagai pusat pertumbuhan baru yang harus mampu memberi tricle down effect bagi daerah lain di sekitarnya. Sedangkan kabupaten/kota lainnya berperan kawasan peyangga yang memasok berbagai bahan baku industri maupun penyedia tenaga kerja yang dibutuhkan. Untuk itu, sinergisitas dan interkoneksi antar wilayah kabupaten/kota merupakan sebuah keniscayaan untuk mendukung kesuksesan pembangunan KEK Barsela ini.

Beberapa sektor industri unggulan yang potensial untuk dikembangkan di kawasan ekonomi khusus Barsela adalah industri perkebunan, industri pertanian, industri perikanan dan industri hasil kelautan. Pemilihan sektor unggulan ini didasarkan pada ketersediaan potensi ekonomi lokal. Semua kegiatan ekonomi pada keeempat sektor tersebut didesain secara terintegrasi dari hulu hingga ke hilir sehingga menjadi kegiatan ekonomi utama kawasan ekonomi khusus barsela. Oleh sebab itu, kehadiran berbagai korporasi baru yang mendukung kegiatan ekonomi pada empat sektor tersebut perlu didukung dan difasilitasi dengan baik.

Penyiapan SDM
Keterediaan sumber daya manusia merupakan tantangan tersendiri dalam pembangunan kawasan ekonomi khusus. Sumber daya manusia yang terampil merupakan lokomotif utama penggerak perekonomian. Merekalah yang bekerja pada berbagai perusahan sehingga mampu menggerakkan urat nadi perekonomian sekitar. Beruntunglah, jika tenaga kerja terampil berasal dari tenaga kerja lokal. Tentu hal ini akan berdampak lebih signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat dibandingkan dengan mendatangkan tenaga kerja dari luar.

Agenda penyiapan SDM harus menjadi perhatian bagi pemerintah daerah di kawasan pantai barat selatan Aceh. Jika hal ini gagal dilakukan, maka adagium buya krueng teudong-dong, buya tameng meuraseuki akan nyaring terdengar di kalangan masyarakat kita. Tentu, masalah ini akan menjadi kendala tersendiri dalam pembangunan akibat timbulnya kecemburuan sosial mayarakat lokal terhadap pekerja pendatang.

Sebagai langkah penyediaan tenagakerja terampil, pemerintah perlu menyediakan sekolah kejuruan dan pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri. Pendekatan ini diharapkan ampuh dalam memfasilitasi tenaga kerja lokal untuk bekerja pada berbagai perusahaan di kawasan ekonomi khusus. Tenaga kerja lokal harus dibekali dengan ilmu yang relevan dan dilatih berbagai macam skill untuk mampu mengisi berbagai lowongan kerja strategis ketika industri di kawasan ekonomi khusus telah berkembang. Jangan sampai para putra daerah hanya mampu bekerja sebatas satpam dan petugas kebersihan saja.

Kehadiran lembaga pendidikan vokasi sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja akan mampu meminimalisir angka pengangguran di kawasan Barsela. Tenaga kerja lokal yang terampil juga akan memperkecil potensi kecemburuan sosial yang timbul antara pekerja lokal dengan pekerja pendatang. Terakhir, hal yang tidak kalah pentingnya adalah mengubah peran pemuda lokal dari perannya sebagai penonton menjadi subjek dalam pembangunan di daerahnya.

AYH|AndiYudiHendriawan
Ketua Team Perumus Akselarasi KEKHalalBarsela ISMI

By |2019-10-21T13:50:38+07:00October 21st, 2019|Categories: Tak Berkategori|0 Comments

Leave A Comment

Translate »